
METRO — Kesempatan mewawancarai pejabat negara menjadi pengalaman berharga bagi Jurnalis Junior MA Muhammadiyah Metro saat meliput pembukaan Tanwir I Kwartir Pusat Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan di Universitas Muhammadiyah Metro (UM Metro), Kamis (8/10/2026).
Kehadiran Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia menjadi salah satu momen yang dinantikan para jurnalis. Namun, kesibukan agenda dan keterbatasan waktu kunjungan membuat kesempatan wawancara tidak berjalan sesuai harapan. Menteri harus melanjutkan agenda kunjungan ke sekolah lain sehingga waktu untuk awak media sangat terbatas.
Meski belum berhasil mendapatkan wawancara secara utuh, pengalaman tersebut justru menjadi pembelajaran langsung bagi para Jurnalis Junior MA Muhammadiyah Metro. Mereka merasakan bagaimana dinamika kerja jurnalistik di lapangan, mulai dari menghadapi situasi yang padat, mengejar momentum, hingga berkoordinasi dalam waktu yang terbatas.
Salah seorang Jurnalis Junior, Leony, mengaku pengalaman tersebut menjadi salah satu momen yang paling menegangkan sekaligus berkesan baginya.
Menurutnya, berada di tengah keramaian awak media dan ketatnya pengawalan protokol membuat dirinya harus berani mengambil kesempatan yang ada.
“Deg-degan, terburu-buru, bahkan sempat ragu. Tetapi saya belajar bahwa menjadi jurnalis bukan hanya tentang menyiapkan pertanyaan, melainkan juga tentang keberanian mengejar kesempatan dan kegigihan untuk mendapatkan sebuah cerita,” ujar Leony.
Ia mengatakan, meskipun kesempatan wawancara dengan Menteri sangat terbatas, dirinya tetap memperoleh pengalaman penting. Bahkan, pesan singkat yang disampaikan Menteri kepada siswa MA Muhammadiyah Metro menjadi sesuatu yang berkesan baginya.
“Rajin belajar dan terus semangat,” demikian pesan Menteri yang diterima Leony.
Bagi Leony, kalimat sederhana tersebut memiliki makna tersendiri karena diperoleh setelah perjuangan mendapatkan kesempatan di tengah padatnya aktivitas Menteri.
Sementara itu, Aisyah yang bertugas mendokumentasikan kegiatan mengaku sempat merasa waswas akan kehilangan momen penting.
“Saya merasa was-was banget, takut ketinggalan momen dan tidak mendapatkan dokumentasi yang bagus karena Pak Menteri sangat sibuk,” kata Aisyah.
Namun, kekhawatiran tersebut berubah menjadi pengalaman yang menyenangkan. Ia mengaku mendapat kesempatan untuk merasakan langsung suasana kerja jurnalistik di lapangan.
“Seru banget karena saya jadi dapat pengalaman turun ke lapangan dan langsung menyaksikan keramaian anak-anak jurnalistik yang lain. Jadi seperti wartawan benar-benar. Ramai sana-sini, flash sana-sini, motret sana-sini,” ujarnya.
Pengalaman serupa juga dirasakan Fina. Ia mengaku sempat merasa gugup sebelum menjalankan tugas. Namun, setelah berada di lapangan, rasa gugup tersebut perlahan berubah menjadi semangat.
“Awalnya grogi, tetapi setelah dijalani ternyata seru. Banyak pengalaman yang membuat saya belajar menjadi lebih profesional dalam menghadapi situasi yang mendadak,” tutur Fina.
Bagi para Jurnalis Junior MA Muhammadiyah Metro, pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa kerja jurnalistik tidak selalu berakhir dengan wawancara atau berita yang sesuai rencana. Situasi di lapangan dapat berubah sewaktu-waktu dan seorang jurnalis dituntut mampu beradaptasi.
Kegagalan mendapatkan wawancara panjang dengan Menteri pun tidak mereka anggap sebagai kegagalan sepenuhnya. Sebaliknya, pengalaman tersebut menjadi ruang belajar untuk membangun keberanian, ketanggapan, kemampuan mengambil keputusan, serta kesiapan menghadapi dinamika pekerjaan jurnalistik.
Fina pun menyampaikan pesan yang menjadi refleksi dari pengalaman mereka di lapangan.
“Selalu semangat dan harus bisa menjadi yang terbaik,” ujarnya.
Bagi Jurnalis Junior MA Muhammadiyah Metro, pengalaman meliput Tanwir I Hizbul Wathan di UM Metro bukan sekadar menjalankan tugas jurnalistik. Lebih dari itu, pengalaman tersebut menjadi kesempatan untuk belajar bahwa di balik sebuah berita terdapat proses panjang, keberanian mengambil peluang, serta ketekunan untuk terus mencoba.





